News
Beranda » Berita » BRIN Kembangkan AI Pendeteksi Konflik Opini Publik di Media Sosial

BRIN Kembangkan AI Pendeteksi Konflik Opini Publik di Media Sosial

kantor BRIN di Jakarta (Dok. BRIN)

JAKARTA, Ketikan.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berbasis Natural Language Processing (NLP) untuk membaca dan mendeteksi sentimen konflik dalam opini publik secara lebih detail dan akurat.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN bidang NLP, Nuryani, mengatakan riset ini menjadi penguatan dari pendekatan aspect-based sentiment analysis (ABSA) yang memungkinkan analisis tidak hanya dilakukan secara umum, tetapi juga berdasarkan aspek tertentu dalam sebuah teks.

Hal itu disampaikan Nuryani dalam webinar Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi (DESAIN) #4, Rabu (6/5/2026).

“Dengan analisis sentimen, para pengambil kebijakan dapat meningkatkan kualitas layanan, memantau reputasi, hingga memahami respons masyarakat terhadap suatu isu,” kata Nuryani, dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (12/5).

Ia menjelaskan, pendekatan ABSA berbeda dengan analisis sentimen konvensional yang hanya membaca keseluruhan opini.

Komisi X DPR Minta Penataan Guru Non-ASN Tidak Ganggu Sekolah

Dalam metode ini, setiap aspek dalam teks dapat dipetakan secara lebih spesifik, termasuk ketika muncul kondisi sentimen konflik—yakni satu aspek yang mengandung sentimen positif sekaligus negatif.

Menurutnya, tantangan utama dalam pengembangan metode tersebut adalah keterbatasan model yang selama ini masih fokus pada klasifikasi dua atau tiga kategori sentimen, sehingga tidak mampu menangkap kompleksitas sentimen konflik secara utuh.

Sebagai solusi, BRIN mengembangkan pendekatan berbasis model Bidirectional Encoder Representations from Transformers (BERT) yang memungkinkan representasi sentimen positif dan negatif secara bersamaan pada satu aspek.

Penguatan model juga dilakukan melalui teknik synthetic data generation dengan memanfaatkan model bahasa besar seperti Llama, Gamma, dan Mixtral.

Pendekatan ini disebut mampu meningkatkan akurasi dalam mendeteksi sentimen konflik, terutama pada data dengan keterbatasan sumber daya.

WNA India Selundupkan Emas Rp700 Juta di Bandara Soekarno-Hatta

BRIN menilai, pengembangan teknologi ini berpotensi diterapkan di berbagai sektor, mulai dari analisis kebijakan publik, pemantauan isu sosial, hingga peningkatan layanan berbasis umpan balik masyarakat.***