SUMENEP, Ketikan.com — Rektor Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Prof. Rachmad Hidayat, mengaku keberatan jika kampus terlibat langsung dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, perguruan tinggi harus tetap menjaga fungsi utamanya sebagai lembaga akademik dan tidak masuk dalam kegiatan yang memiliki unsur bisnis.
“Kalau menurut saya, kampus adalah lembaga akademik. Kurang pas kalau kampus juga terlibat dalam SPPG,” kata Rachmad, dikutip dari Kompas, Kamis (14/5).
Ia menegaskan, kampus tetap mendukung program pemerintah dalam pemenuhan gizi masyarakat. Namun, bentuk keterlibatan perguruan tinggi dinilai lebih tepat dalam aspek pengawasan, edukasi, dan pendampingan pelaksanaan program.
“Kita mendukung penyediaan gizi untuk anak-anak bangsa. Tapi lebih baik kampus menjadi lembaga yang mengawasi kegiatan SPPG saja,” ujarnya.
Rachmad menilai, pengelolaan SPPG memiliki sisi bisnis yang dikhawatirkan dapat mengaburkan marwah kampus sebagai institusi akademik.
“SPPG ini kan juga ada sisi bisnisnya. Kampus itu lembaga akademik non-waralaba. Kami harus menjaga marwah kampus sebagai lembaga akademik,” katanya.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mengajak seluruh sivitas akademika di perguruan tinggi untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai laboratorium hidup yang mendorong ekosistem riset, kajian, hingga pengembangan pendidikan berkualitas.
“MBG adalah laboratorium bagi kampus. Semua fakultas bisa terlibat dan mengambil peran sesuai bidangnya,” kata Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang.***
