JAKARTA, Ketikan.com – Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengkritik rencana pemerintah menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan dunia kerja.
Ia menegaskan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tidak seharusnya memandang perguruan tinggi sebagai pencetak pekerja.
“Kampus bukan pabrik buruh,” kata Indra, dikutip dari Kompas, Selasa (28/4).
Menurutnya, rencana penghapusan prodi justru mencerminkan belum adanya peta jalan talenta dan visi industri yang jelas dari pemerintah.
“Menutup prodi karena lulusannya tidak terserap kerja sementara industrinya tidak dibangun adalah kesalahan logika yang fatal,” ujarnya.
Indra mencontohkan prodi biologi maritim yang penting bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Namun tanpa dukungan industri, lulusan akan kesulitan terserap.
Ia menilai pemerintah seharusnya membangun ekosistem industri yang sejalan dengan pendidikan, bukan sebaliknya.
Indra juga mengingatkan mandat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 5 yang menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia menyarankan pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum menutup prodi, serta fokus pada reformasi kurikulum berbasis inovasi dan era Society 5.0.
“Kalau hanya mencetak pekerja, mereka akan tergantikan teknologi. Pendidikan harus melahirkan pencipta,” katanya.
Sebelumnya, Sekjen Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco menyatakan pemerintah akan mengevaluasi dan menutup prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.
Langkah itu diambil untuk menekan ketimpangan antara lulusan perguruan tinggi dan pasar kerja.
Pemerintah mencatat setiap tahun ada sekitar 1,9 juta lulusan, namun banyak yang kesulitan mendapat pekerjaan.
Karena itu, pemerintah mendorong penyesuaian prodi dengan sektor prioritas seperti energi, pangan, kesehatan, hingga digitalisasi.***
