JAKARTA, Ketikan.com — Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR PA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mendorong industri nasional mulai membangun satelit secara mandiri dan tidak terus bergantung pada produk luar negeri.
Pernyataan itu disampaikan Heru saat menjadi pembicara dalam forum Asia-Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan industri untuk membangun ekosistem satelit nasional, khususnya pada sektor satelit penginderaan jauh dan satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO).
“Ke depan, jangan hanya membeli satelit. Mari kita bangun bersama. Kami siap membantu, baik tenaga ahli maupun laboratorium yang kami miliki,” ujar Heru.
Ia menjelaskan, BRIN saat ini mengoperasikan dua satelit LEO, yakni LAPAN-A2 dan LAPAN-A3, yang didukung stasiun bumi di Bogor dengan antena berdiameter 11 meter.
Menurutnya, fasilitas tersebut tidak hanya mendukung operasional satelit nasional, tetapi juga digunakan dalam kerja sama internasional.
Pada Desember 2025, stasiun bumi BRIN turut membantu pelacakan peluncuran satelit milik Indian Space Research Organisation (ISRO), termasuk peluncuran satelit terbesar lembaga antariksa India tersebut.
“Bulan depan kami juga dijadwalkan membantu pelacakan peluncuran satelit startup India, Skyroot, dari stasiun bumi Bogor,” katanya.
Heru juga memaparkan pemanfaatan ekosistem satelit dalam mitigasi bencana, termasuk saat banjir besar melanda Sumatra pada akhir 2025.
Saat itu, BRIN mengaktifkan mekanisme International Charter Space and Major Disasters guna memperoleh dukungan citra satelit dari sejumlah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, BRIN sempat menghadapi keterbatasan akses citra satelit resolusi tinggi secara cepat. Untuk mengatasinya, BRIN bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan perusahaan kontraktor pertahanan Petaland yang memiliki layanan citra satelit resolusi tinggi BlackSky.
Data tersebut kemudian dipadukan dengan citra milik BRIN untuk memetakan rumah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum yang terdampak banjir.
“Kami menggunakan data itu untuk membantu tim penyelamat dan badan penanggulangan bencana menyusun skenario logistik dan bantuan,” ujarnya.
Selain mengoperasikan satelit, BRIN juga mengembangkan sejumlah komponen satelit secara mandiri seperti star sensor dan reaction wheel.
BRIN juga membuka fasilitas laboratorium manufaktur satelit di Bogor yang dapat dimanfaatkan industri nasional.
“Kami menghasilkan pengetahuan, hak kekayaan intelektual, dan menyiapkan sumber daya manusia untuk membangun satelit LEO,” pungkasnya.***
