Ekonomi
Beranda » Berita » Anggota DPRD Sumenep Minta Bahan Baku MBG Libatkan Petani Lokal

Anggota DPRD Sumenep Minta Bahan Baku MBG Libatkan Petani Lokal

Anggota Komisi II DPRD Sumenep H. Masdawi (Dok. Istimewa)

SUMENEP, Ketikan.com – Anggota Komisi II DPRD Sumenep, H. Masdawi, menyoroti pasokan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih didominasi suplai dari luar daerah dan berpotensi dimonopoli oleh pihak tertentu.

Menurutnya, selama ini kebutuhan MBG, khususnya komoditas telur, lebih banyak dipasok dari luar daerah seperti Ngawi, Blitar, dan Tulungagung, sehingga peternak lokal belum terakomodasi secara optimal.

“Seperti telur, itu lebih banyak didatangkan dari luar. Sementara peternak lokal banyak yang tidak terakomodir,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (6/4).

Masdawi menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep perlu memperhatikan serapan hasil pertanian dan peternakan lokal agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di daerah.

Ia juga menyoroti dugaan praktik monopoli oleh sejumlah pemasok MBG yang tidak melibatkan petani lokal, bahkan dinilai kurang memperhatikan kualitas serta berpotensi memainkan harga komoditas.

UNIJA Madura-Alumni Temui Ketua DPRD Sumenep Bahas Sinergi Pembangunan

“Kebanyakan penyuplai itu orang-orang tertentu, tapi tidak melibatkan petani lokal agar mereka juga merasakan manfaat program pemerintah,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut harus segera dievaluasi agar hasil panen lokal dapat terserap dalam program MBG dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pengaturan kualitas dan kuantitas hasil panen agar sesuai dengan kebutuhan MBG, serta pengawasan harga agar tidak merugikan petani.

“Selama ini belum terkoordinir. Iklim untuk menyerap hasil panen lokal ke MBG belum terbentuk, sehingga suplai masih banyak dari luar. Ini perlu evaluasi,” jelasnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah memperkuat kebijakan di sektor pertanian, termasuk menghadirkan koordinator atau sistem yang mampu mengakomodir hasil panen lokal sekaligus mengawasi harga di tingkat pemasok.

Purbaya Tolak Ngutang ke IMF, Klaim RI Masih Kuat

“Harus ada yang mengoordinir agar hasil panen lokal terserap dan harga tidak dipermainkan suplier,” imbuhnya.

Masdawi berharap Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi lokal.

“MBG ini bukan hanya untuk gizi, tapi juga untuk meningkatkan ekonomi daerah. Kalau hasil panen petani terserap, sirkulasi ekonomi akan ikut membaik,” pungkasnya.*