Ekonomi
Beranda » Berita » Program Jagoan Tani Banyuwangi Mulai Cetak Petani Milenial

Program Jagoan Tani Banyuwangi Mulai Cetak Petani Milenial

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi green house melon hidroponik petani muda (Dok. PDIP Jatim)

BANYUWANGI, Ketikan.com — Program Jagoan Tani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mulai menunjukkan hasil.

Pasalnya, sejumlah anak muda kini terjun ke sektor pertanian dan mengembangkan berbagai inovasi.

Program yang digagas sejak 2021 ini menjadi upaya Pemkab Banyuwangi mendorong regenerasi petani.

Fokusnya menarik minat generasi muda agar masuk ke sektor yang selama ini didominasi usia tua.

“Banyuwangi memiliki potensi sangat besar di pertanian. Karena itu sektor ini menjadi salah program prioritas kami. Bagi Banyuwangi sektor pertanian menjadi salah satu perhatian dan perlu dipikirkan regenerasinya, agar anak-anak muda tertarik dengan pertanian,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi green house melon hidroponik di Purwoharjo, dikutip Sabtu (2/5).

Pemkab Sumenep Siapkan Usulan Perda RPIK untuk Petakan Industri Daerah

Melalui program ini, pemerintah memberikan pendampingan, menghadirkan mentor, serta stimulus modal bagi anak muda yang ingin berwirausaha di bidang pertanian.

“Program pertanian kami salah satunya untuk anak-anak muda, karena kami sadar dengan kreatifitas dan jiwa muda, mereka adalah tulang punggung pangan ke depan,” kata Ipuk.

Hasilnya mulai terlihat di lapangan. Salah satunya Paul Corneles Hariyono, pemuda asal Purwoharjo yang mengembangkan green house melon hidroponik premium.

“Kita punya lahan yang subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik untuk pertanian. Sangat sayang kalau disia-siakan,” ujarnya.

Selain itu, Rega (29), pemuda asal Desa Karetan, juga mengembangkan sistem pertanian terintegrasi dalam satu lahan.

DPRD Sumenep Dorong Keseimbangan Pasar Modern dan Tradisional

Ia memadukan tanaman, peternakan, dan perikanan untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Pemkab Banyuwangi menilai keterlibatan anak muda menjadi kunci keberlanjutan sektor pertanian, sekaligus penggerak ekonomi daerah ke depan.***