JAKARTA, Ketikan.com — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kian menunjukkan daya tariknya di panggung politik nasional.
Sejak 2025 hingga awal 2026, partai yang dipimpin Kaesang Pangarep ini tercatat menerima sedikitnya sembilan mantan kader dari berbagai partai politik.
Dari jumlah tersebut, mayoritas berasal dari Partai NasDem, menandakan adanya pergeseran preferensi politik di kalangan elite dan kader daerah.
Gelombang awal perpindahan ditandai dengan bergabungnya tiga nama, yakni Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu.
Ahmad Ali bahkan langsung dipercaya mengisi posisi strategis sebagai Ketua Harian PSI.
Ia menyebut keputusannya bergabung dilandasi keyakinan bahwa PSI merupakan “partai masa depan”.
Dalam pandangannya, perpindahan kader adalah hal yang lumrah dalam dinamika politik, terlebih ketika terdapat kecocokan visi dan kedekatan relasi.
Tak hanya dari NasDem, PSI juga menerima kader dari PDI Perjuangan. Nina Agustina menjadi salah satu nama yang ikut bergabung, dengan pengakuan bahwa langkahnya telah mendapat restu dari Joko Widodo.
Momentum penting terjadi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI pada 31 Januari 2026.
Dalam forum tersebut, Kaesang memperkenalkan tujuh tokoh baru yang resmi menjadi bagian dari partai.
Mengutip kompascom, lima di antaranya merupakan eks kader partai politik lain, yakni Hendra Joni, mantan Ketua DPD Partai NasDem Sumatera Barat sekaligus eks Bupati Pesisir Selatan; Lutfi Halide, mantan Wakil Bupati Soppeng; Resky Mulfiati Lutfi, mantan anggota DPRD Sulawesi Selatan; Vera Firdaus, mantan kader Partai Keadilan Sejahtera; serta Ikrar Kamaruddin, mantan kader Partai Demokrat.
Sementara itu, dua nama lainnya berasal dari luar partai politik, yakni Muhammad Asrul, mantan Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi periode 2022–2025, serta Al Habib Syarif Husain sebagai tokoh agama.
Masuknya beragam latar belakang ini memperlihatkan strategi PSI dalam memperluas basis, tidak hanya dari kalangan politisi, tetapi juga aktivis dan tokoh masyarakat.
Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, menyebut arus masuk kader masih akan terus berlanjut.
Ia mengeklaim jumlahnya terus bertambah, meski tidak merinci angka pasti.
Menurut Grace, tren ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap PSI sebagai kendaraan politik baru.
Ia menegaskan bahwa partainya membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun, tanpa sekat latar belakang.
“PSI adalah partai yang terbuka, di mana semua orang bisa terlibat dan berkontribusi,” ujarnya.*
