Politik
Beranda » Berita » Sosok Nur Faizin, Politisi Vokal yang Sempat Tersandung Polemik Rokok Ilegal

Sosok Nur Faizin, Politisi Vokal yang Sempat Tersandung Polemik Rokok Ilegal

Politisi PKB Jatim Nur Faizin (Dok/RadarBangsa)

Editorial, Ketikan.com — Nama Nur Faizin mengemuka dalam bursa calon Ketua DPC PKB Sumenep menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) 2026.

Sekretaris Fraksi PKB DPRD Jawa Timur itu masuk dalam radar sembilan kandidat hasil pemetaan DPP PKB.

Rekam jejaknya sebagai politisi vokal yang kerap mengangkat isu-isu Madura menjadi salah satu faktor yang mengerek namanya dalam kontestasi internal tersebut.

Namun, karakter vokal yang selama ini menjadi kekuatan, pada saat yang sama juga menyisakan catatan.

Sejumlah pernyataannya di ruang publik tak jarang memantik polemik, terutama ketika bersentuhan dengan isu yang sensitif secara sosial dan ekonomi.

Sumenep Siapkan Pabrik Ikan untuk Dongkrak Ekonomi Nelayan

Salah satu yang paling mencolok adalah pernyataannya terkait dorongan pemberantasan rokok ilegal.

Di atas kertas, isu tersebut sejalan dengan upaya penegakan hukum. Namun di lapangan, narasi itu ditentang publik Madura yang sebagian menggantungkan hidup pada sektor tembakau.

Tak pelak, pernyataan tersebut menuai reaksi. Kritik datang, salah satunya dari Ketua Putra-Putri Petani Tembakau Madura (P3TM), Fauzi.

“Mas Nur Faizin harus sering turun ke lapangan agar tahu betul nasib petani tembakau seperti apa. Jangan hanya duduk di kursi empuk dan ruangan ber-AC, lalu berkomentar semaunya,” ujar Fauzi, tempo hari.

Ia juga menyoroti pentingnya kepekaan terhadap denyut sosial masyarakat lokal.

Pilkades Raas 2027: Saatnya Menggugat Politik Kucing dalam Karung

“Saya tidak heran Mas Nur Faizin berkomentar seperti itu, karena beliau lama di Jakarta sehingga tidak paham jeritan rakyat,” katanya.

Di media sosial, polemik itu membuat namanya yang sempat harum seketika menjadi sorotan publik.

Polemik ini menjadi catatan tersendiri. Di satu sisi, keberanian bersuara tetap dibutuhkan dalam politik. Namun di sisi lain, kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat menjadi hal yang tak kalah penting, terlebih di daerah dengan karakter ekonomi seperti Madura.

Menjelang Muscab 2026, situasi ini menempatkan Nur Faizin dalam sorotan. Bukan hanya soal kapasitas dan pengalaman, tetapi juga bagaimana publik menilai sikap dan pernyataannya.

Muscab kali ini bukan sekadar agenda rutin. Lebih dari itu, ia menjadi ruang penilaian atas rekam jejak, sekaligus cermin bagaimana seorang figur membaca dan merespons persoalan di tengah masyarakat.*

Megawati Larang Kader PDIP Korupsi, Harus Dekat dengan Rakyat