News
Beranda » Berita » Isu Bau Dapur Ditepis, SPPG Gili Timur Buktikan Fasilitas Berstandar BGN dan Serap Tenaga Kerja Lokal

Isu Bau Dapur Ditepis, SPPG Gili Timur Buktikan Fasilitas Berstandar BGN dan Serap Tenaga Kerja Lokal

Pengelola SPPG Yayasan Laili Izzatul Faqoh memperlihatkan fasilitas dapur di Desa Gili Timur. (Dok. Ketikan.com)

BANGKALAN, Ketikan.com – Isu miring terkait dugaan bau tak sedap yang mengusik kenyamanan warga Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Bangkalan, akhirnya dijawab tuntas.

Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Laili Izzatul Faqoh menegaskan bahwa fasilitas mereka beroperasi di atas standar ketat Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus berdampak positif bagi ekonomi warga setempat.

Pemilik SPPG Gili Timur, H. Subaidi, menepis tuduhan pencemaran lingkungan tersebut. Ia menekankan bahwa dapur gizi yang ia kelola tidak sekadar mengejar fungsi pelayanan pangan, melainkan juga menerapkan tata kelola lingkungan yang presisi.

“Kalau memang ada isu bau tak sedap, kami ingin tahu di mana titik lokasinya dan dari mana sumbernya. Kami sangat terbuka, silakan datang dan cek langsung kondisi faktual di lapangan,” ujar H. Subaidi, Rabu, (19/0826).

Kesaksian senada datang dari Alvin Kurniasih, warga yang bermukim di sekitar area operasional SPPG. Ia menegaskan bahwa narasi keluhan yang beredar sangat bertolak belakang dengan kondisi riil di pemukiman mereka. Lingkungan di sekitar dapur tetap bersih, segar, dan tidak ada aroma mengganggu.

5 Tahun Komitmen Tangani Stunting, SKK Migas-KEI Raih Penghargaan

Lebih dari sekadar menepis rumor, Alvin membeberkan sisi lain dari keberadaan SPPG yang justru dinikmati masyarakat sekitar, yakni hadirnya lapangan kerja baru di tingkat tapak.

“Sepengetahuan saya dan tetangga sekitar, tidak ada bau tak sedap sama sekali. Kami justru sangat terbantu karena banyak warga lokal dan tetangga sekitar yang diberdayakan untuk bekerja di dapur milik H. Subaidi ini,” ungkap Alvin.

Untuk menjamin keamanan lingkungan, H. Subaidi membeberkan bahwa seluruh infrastruktur dapur telah mengadopsi petunjuk teknis BGN secara penuh (100 persen). Salah satu pilar utamanya terletak pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terintegrasi yang dilengkapi teknologi grease trap (perangkap lemak) dan bio-filter.

Melalui sistem ini, seluruh sisa minyak dan air cucian dapur disaring secara bertahap sebelum dilepas ke pembuangan umum. Hasilnya, air limbah buangan terolah sempurna, jernih, dan dipastikan bebas aroma tak sedap.

“Semua standar BGN sudah kami penuhi, mulai dari alur kerja higienis, penggunaan material food grade, hingga pengolahan limbah berbasis IPAL. Jadi air yang keluar itu sudah bersih dan tidak berbau,” tegas Subaidi.

BM PAN Gerak Cepat Bantu Korban Gempa di Kampung Repu NTT