JAKARTA, Ketikan.com – Anggota DPR RI Fraksi PAN, Slamet Ariyadi, mendorong Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi momentum untuk menyusun agenda strategis NU menuju abad kedua.
Slamet menilai Muktamar NU tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi harus menghasilkan arah dan program konkret untuk menjawab tantangan zaman.
“Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau agenda rutin organisasi. Muktamar ini harus dibaca sebagai momentum sejarah: sebuah persimpangan penting ketika NU menatap perjalanan menuju abad kedua dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar,” ujar Slamet dalam keterangannya, Kamis (27/8).
Menurutnya, NU memiliki modal besar berupa tradisi keilmuan, pesantren, jaringan ulama dan kekuatan masyarakat sipil yang telah terbangun selama satu abad.
Namun, Slamet mengatakan tantangan yang dihadapi generasi saat ini telah berubah, mulai dari perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola pekerjaan, krisis lingkungan hingga dinamika geopolitik.
“Karena itu, NU harus mampu menjadikan tradisi sebagai kekuatan untuk beradaptasi, bukan alasan untuk menutup diri dari perubahan. NU harus tetap berakar kuat, tetapi memiliki pandangan yang jauh ke depan,” katanya.
Slamet juga menyoroti pentingnya regenerasi di tubuh NU. Menurutnya, anak muda harus mendapat ruang untuk memimpin, mengambil keputusan dan menyampaikan gagasan.
“Regenerasi harus bergerak dari sekadar transfer kepemimpinan menjadi transfer pengetahuan, pengalaman, nilai, dan kesempatan. Jika anak muda hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, sementara keputusan strategis selalu ditentukan oleh generasi sebelumnya, maka regenerasi akan berjalan lambat. Sebaliknya, jika generasi muda dipercaya dan dibimbing untuk mengambil tanggung jawab, NU akan memiliki energi baru untuk menghadapi abad kedua,” tegasnya.
Ia meminta Muktamar NU ke-35 tidak berhenti menghasilkan rekomendasi, tetapi melahirkan program yang dapat diukur dan dievaluasi.
“Muktamar harus menghasilkan roadmap. Ada target yang jelas, program yang terukur, kaderisasi yang berkelanjutan, dan mekanisme evaluasi. Dengan demikian, keputusan muktamar tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi benar-benar menjadi instrumen perubahan,” ujarnya.
Slamet juga mendorong penguatan pesantren agar mampu memadukan pendidikan keagamaan dengan sains dan teknologi.
“Kita harus membangun generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca perubahan zaman. Generasi yang religius tetapi terbuka. Berakar pada tradisi tetapi inovatif. Cinta tanah air tetapi berpikiran global. Memiliki karakter kuat sekaligus kompetensi yang tinggi,” katanya.
Menurutnya, penguatan peran NU juga tidak terlepas dari kepentingan kebangsaan. NU dinilai memiliki posisi penting dalam menjaga persatuan, toleransi, demokrasi dan keberagaman Indonesia.
“Politik boleh berbeda, tetapi persaudaraan kebangsaan tidak boleh putus,” tegasnya.
Slamet berharap Muktamar NU ke-35 menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga warisan ulama sekaligus berani menghadirkan pembaruan.
“Abad kedua NU tidak boleh hanya menjadi perayaan usia. Ia harus menjadi lompatan peradaban. Karena itu, Muktamar NU ke-35 harus menjadi titik tolak untuk menata masa kini dan menjemput masa depan,” pungkasnya.
