Ekonomi
Beranda » Berita » Sumbang 3 Persen Ekonomi Banten, BI Ungkap Peran Strategis Sektor UMKM

Sumbang 3 Persen Ekonomi Banten, BI Ungkap Peran Strategis Sektor UMKM

Taklimat Media BI Banten bersama jurnalis di Kota Serang (Dok. Ketikan)

KOTA SERANG, Ketikan.com — Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mengukuhkan posisinya sebagai penopang utama daya tahan dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat bahwa sektor UMKM memberikan andil besar terhadap total pertumbuhan ekonomi daerah yang pada triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,49 persen secara tahunan (year-on-year).

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah, menjelaskan bahwa kontribusi UMKM terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten berada di kisaran 50 hingga 55 persen.

Tingginya porsi tersebut membuat aktivitas usaha mikro dan kecil memiliki pengaruh langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi regional.

“Artinya UMKM itu menyumbang sekitar hampir 3 persen pertumbuhan ekonomi di Banten. Jadi sangat besar,” ujar Rawindra dalam Acara Taklimat Media BI Banten di Kota Serang, Jum’at (7/8).

Hasto Tegaskan PDIP Tolak Wacana Percepatan Pemilu 2029

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BI Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, menegaskan bahwa UMKM merupakan pilar utama perekonomian nasional maupun daerah.

Karakteristik UMKM yang fleksibel dan tersebar luas menjadikannya fondasi utama dalam menjaga Stabilitas pasokan serta penyerapan tenaga kerja secara masif di Indonesia.

“Rata-ratanya berada di kisaran 50 sampai 60 persen,” kata Sofwan mengenai kontribusi UMKM terhadap PDRB daerah maupun PDB nasional.

Ia menambahkan, lebih dari 99 persen entitas bisnis di Indonesia merupakan pelaku UMKM. Struktur ini sejajar dengan pola perekonomian di berbagai negara maju dan anggota G20, tempat UMKM tetap menjadi penggerak utama kegiatan ekonomi.

Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit UMKM di Banten menunjukkan tren yang kuat, terutama pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

5 Tahun Komitmen Tangani Stunting, SKK Migas-KEI Raih Penghargaan

Sektor ini memegang pangsa pasar terbesar dengan porsi mencapai 49 persen dan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15 persen pada triwulan II-2026.

Dominasi ini mencerminkan tingginya aktivitas produksi pangan dan pengelolaan sumber daya alam di kawasan Banten.

Selain pertanian, penyerapan kredit UMKM juga tersebar pada beberapa bidang usaha strategis lainnya. Sektor konstruksi menyerap 16 persen, diikuti sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 10 persen.

Sektor industri pengolahan mencatatkan porsi 9 persen, sedangkan sektor jasa keuangan dan real estate memegang porsi 5,40 persen. Meski porsinya relatif kecil, sektor jasa keuangan dan real estate mengalami kenaikan penyaluran kredit paling tinggi, yakni tumbuh hingga 26 persen.

Di bidang digitalisasi, transaksi perdagangan elektronik (e-commerce) di Banten mulai menunjukkan tren pemulihan. Meskipun secara tahunan masih mengalami kontraksi, laju penurunan tersebut terus membaik.

Kota Solok Tuan Rumah Pembukaan PORPROV XVI Sumbar 2026

Pada triwulan I-2026, kontraksi transaksi e-commerce berhasil ditekan menjadi -9,95 persen, membaik dibanding triwulan IV-2025 yang sempat menyentuh -16,11 persen.

“Walaupun masih minus, tapi minusnya semakin kecil, artinya ada peningkatan e-commerce,” jelas Rawindra.

Tren belanja daring masyarakat Banten di platform e-commerce saat ini masih didominasi oleh tiga kategori utama.

Produk fashion menempati posisi pertama sebagai pendorong transaksi terbesar, disusul oleh kategori kebutuhan rumah tangga di posisi kedua, serta produk kosmetik atau perawatan kulit (skincare) di posisi ketiga.

Untuk memperkuat peran UMKM ke depan, Bank Indonesia Provinsi Banten berkomitmen menjalankan langkah-langkah strategis.

Langkah tersebut mencakup pemberian pelatihan intensif, perluasan jangkauan pasar, hingga mendorong penetrasi UMKM ke platform digital dan ekosistem ekspor.

Selain perluasan pasar, Bank Indonesia kini juga mengarahkan pengembangan UMKM agar lebih peduli terhadap lingkungan (green economy). Pelaku usaha didorong untuk menerapkan proses produksi ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Langkah ini diharapkan mampu membentuk ekosistem UMKM yang menjaga kelestarian alam sekaligus berdaya saing tinggi di tingkat internasional. (Jurnalis/Ayatullah Chumaini)