JAKARTA, Ketikan.com – Pemerintah mulai menggeser arah pembangunan ekonomi Indonesia dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pergeseran tersebut menjadi strategi utama pemerintah dalam menghadapi dinamika ekonomi global sekaligus memperkuat daya saing nasional.
Menurutnya, transformasi itu didorong melalui tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan produktivitas.
“Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi. Ke depan, pertumbuhan Indonesia tidak hanya stabil, tetapi juga lebih produktif, berkelanjutan, serta tangguh,” ujarnya , dikutip dari Antara, Rabu (22/4).
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian agenda IMF-World Bank Spring Meeting pada 13–17 April di Washington DC, Amerika Serikat.
Purbaya menyebut kinerja ekonomi Indonesia saat ini relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya. Hal itu ditopang pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.
Ia menegaskan, APBN berperan sebagai shock absorber dalam menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah juga tetap menjaga disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat, termasuk memanfaatkan peran Danantara untuk mendorong investasi di luar APBN,” katanya.
Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Menkeu juga menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meski di tengah ketidakpastian global.
Optimisme itu ditopang fondasi ekonomi yang dinilai kuat. Pada 2025, ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,11 persen di saat banyak negara mengalami perlambatan.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026, memperpanjang tren surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Kinerja tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga, rasio utang rendah, serta berlanjutnya kebijakan hilirisasi.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dinamika global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan bantalan fiskal untuk meredam gejolak harga serta menjaga stabilitas energi bersubsidi guna melindungi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, efisiensi belanja negara dan percepatan transformasi struktural, termasuk penguatan hilirisasi, terus didorong untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.*
