Pendidikan
Beranda » Berita » Dari Pesantren ke Panggung Dunia: Jejak Prestasi Mayanggi Sephira Tembus Tiga Belas Kampus Dunia

Dari Pesantren ke Panggung Dunia: Jejak Prestasi Mayanggi Sephira Tembus Tiga Belas Kampus Dunia

Mayanggi Sephira (Dok. Pribadi)

PADANG PANJANG, Ketikan.com — Tidak semua mimpi lahir di kota besar atau sekolah elite. Sebagian justru tumbuh dari ruang belajar sederhana, dari doa-doa panjang, dan dari keberanian seorang santri muda di Padang Panjang yang memilih melangkah lebih jauh dari zona nyamannya.

Pagi itu, suasana di lingkungan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang berjalan seperti biasa. Aktivitas belajar mengajar berlangsung, santri keluar masuk kelas, dan suara percakapan terdengar bersahut-sahutan.

Namun, bagi Mayanggi Sephira, yang akrab disapa Anggi, hari-hari belakangan terasa berbeda. Di balik kesibukan sebagai santriwati kelas XII, ia sedang menata masa depan yang bahkan melintasi batas negara.

Perlahan tapi pasti, satu per satu kabar baik datang. Hingga akhirnya, tiga belas surat penerimaan dari universitas luar negeri berada di tangannya.

Ia diterima di University Of Wollongong (Australia), University Of Georgia (Georgia), Istanbul Aidyn University (Turki), Curtin University (Australia), University Of Otago (New Zealand), University Of Cardiff (United Kingdom), University Of Murdoch (United Arab Emirates).

Kota Solok Tuan Rumah Pembukaan PORPROV XVI Sumbar 2026

Lalu di Middlesex University (United Arab Emirates), Victoria University Wellington (New Zealand), Newcastle University (United Kingdom), Santa Monica College (United States Of America), University Of Waikato (New Zealand), dan Konstruktor University (Germany).

Bagi Anggi, keberhasilan ini bukan tentang siapa yang paling pintar. Baginya, ini tentang siapa yang paling berani mencoba.

Ia percaya, titik balik hidupnya terjadi saat ia memutuskan untuk tidak takut keluar dari zona nyaman, terutama dalam belajar bahasa asing dan komunikasi internasional.

“Semua ini bisa saya capai karena ada kemauan. Kemauan untuk keluar dari zona nyaman dan terus meningkatkan kemampuan diri,” tuturnya.

Anggi adalah putri bungsu dari pasangan Sutikno dan Heriani. Darah Medan mengalir dalam dirinya, tetapi masa kecilnya dihabiskan mengikuti penugasan orang tua di Riau.

Gedung SDN Bringsang II Sumenep Rusak Parah, Dua Kelas Digabung, Kantor Roboh

Hidup berpindah-pindah membuatnya terbiasa beradaptasi. Kini, perpindahan itu bukan lagi antarprovinsi, melainkan antarnegara.

Bagi orang tuanya, pencapaian Anggi bukan sekadar kebanggaan. Lebih dari itu, mereka melihatnya sebagai anugerah.

“Kami hanya orang biasa. Ibu guru, ayah pensiunan tentara. Melihat anak diterima di kampus luar negeri rasanya tidak bisa diungkapkan,” ungkap mereka haru.

Ucapan terima kasih juga mereka tujukan kepada pesantren yang telah menempa karakter dan mental putri mereka.

Mudir pesantren, Derliana, menilai capaian Anggi sebagai bukti bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi global.

Rutan Padang Panjang Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Menurutnya, stigma lama tentang santri kini mulai runtuh. Santri bukan hanya memahami kitab, tetapi juga mampu bersaing di panggung dunia.

Kini, Anggi masih mempertimbangkan pilihan kampus yang akan menjadi tempatnya menempuh pendidikan tinggi. Namun, satu hal sudah pasti: langkahnya telah membuka jalan.

Ia menjadi bukti hidup bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari kamar asrama pesantren yang sederhana. Dan dari sana, seorang santri Indonesia bisa menatap dunia, lalu menaklukkannya.