Opini
Beranda » Berita » Menguji Ketangguhan Panglima Pangan ‘Mas Dar’ Mengolah MBG

Menguji Ketangguhan Panglima Pangan ‘Mas Dar’ Mengolah MBG

Penulis adalah Achmad Jailani, S.T., Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Sumenep

OPINI, Ketikan.com – Pelantikan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru membawa angin segar sekaligus beban ekspektasi yang luar biasa besar.

BGN bukan lembaga biasa; ini adalah motor penggerak dari salah satu program ambisius dalam sejarah modern Indonesia, yaitu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di balik mandat mulia itu, Mas Dar – sapaan akrabnya – langsung dihadapkan pada segudang problem pelik: sengkarut logistik rantai pasok pangan, akurasi data penerima manfaat, keterbatasan anggaran, hingga potensi kebocoran di lapangan.

Lembaga baru ini membutuhkan pemimpin yang tak hanya paham birokrasi, tetapi juga gesit mengeksekusi kebijakan ekstrem.

Itu sebabnya, modal kepemimpinan Mas Dar justru menjadi alasan kuat mengapa optimisme publik layak disematkan.

Terpilih Sebagai Duta Madrasah, Dr. Derliana Ikuti Raker Nasional di Jawa Tengah

Profil Mas Dar mencerminkan kombinasi langka antara kapasitas teknokratis dan kelincahan politik.

Modal Utama Mas Dar Melawan Skeptisisme

Sebagai figur anak muda, Mas Dar membawa energi baru yang adaptif dan bebas dari gaya birokrasi lama yang kaku.

Karakter ini ditunjang oleh pendidikannya yang sangat jelas dan terukur, mulai dari SMA Taruna Nusantara hingga National Defense Academy di Jepang, yang menempanya menjadi pribadi berdisiplin tinggi dengan pola pikir strategis.

Kemampuan public speaking-nya yang luwes juga menjadi senjata krusial. Dalam menakhodai megaproyek seperti gizi nasional, kemampuan mengomunikasikan kebijakan secara jernih kepada publik adalah setengah dari kunci keberhasilan.

Lebih dari itu, Mas Dar dikenal memiliki gaya hidup yang sederhana—mengingat latar belakangnya sebagai anak petani Grobogan—serta rekam jejak digital yang bersih.

Nanda Satria: Kader NasDem Siap Mengantarkan Fadly Amran Menuju Gubernur Sumatera Barat

Aspek integritas ini sangat vital untuk memimpin lembaga yang mengelola anggaran triliunan rupiah agar terhindar dari isu korupsi.

Keunggulan posisinya makin diperkuat karena Mas Dar tidak punya rival politik yang berarti, membuat posisinya relatif aman dari guncangan politisasi program kesejahteraan.

Sebagai anak asuh Prabowo Subianto, Mas Dar memiliki jalur koordinasi vertikal yang sangat pendek dan berbasis kepercayaan tinggi (high trust).

Kedekatan ini memangkas ego sektoral antar-kementerian. Ditambah lagi dengan jaringannya yang mengakar kuat di akar rumput melalui organisasi seperti Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Mas Dar punya mata dan telinga langsung memantau pasokan pangan.

Jaringan Mas Dar juga tidak berhenti pada petani dan pedagang pasar. Melalui Tani Merdeka Indonesia (TMI), ia membangun jejaring petani muda hingga tingkat desa.

Alajer Nusantara Desak Audit Klaim Dana Rp38 Miliar Haji Her untuk Khofifah

Sementara di kalangan mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Peduli Kebangsaan (GMPK) menjadi ruang pembinaan kepemimpinan dan peningkatan kapasitas generasi muda di berbagai kampus.

Pertanyaannya sederhana, mengapa seorang anak desa bisa mendapat kepercayaan besar dari Prabowo Subianto?

Bagi para pendukungnya, jawabannya ada pada komitmen, integritas, loyalitas, dan rekam jejak yang dibangun selama bertahun-tahun.

Tak heran jika sebagian kalangan kemudian menyematkan julukan “Hambalang Boy” kepada Mas Dar.

Menakar Rekam Jejak: Dari Wamentan ke Panglima Gizi

Optimisme terhadap Mas Dar bukan tanpa dasar, melainkan cerminan dari rapor hijaunya selama menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.

Pengalaman di Kementerian Pertanian adalah jembatan emas bagi tugas barunya di BGN. Sebab, masalah gizi tidak bisa dilepaskan dari masalah hulu, yaitu ketersediaan pangan.

Selama di Kementan, Mas Dar sukses mengawal berbagai program akselerasi produksi pangan, modernisasi pertanian, dan mitigasi krisis pangan akibat El Nino.

Ia turun langsung memastikan serapan gabah petani optimal dan distribusi pupuk subsidi tepat sasaran.

Keberhasilan menjaga stabilitas pasokan pangan di tingkat hulu inilah yang menjadi prestasi konkretnya.

Kini, tantangan di BGN adalah menyambungkan keberhasilan hulu (pertanian) tersebut ke hilir (konsumsi gizi masyarakat).

Pengalamannya mengonsolidasikan jutaan petani dan pedagang pasar saat menjadi Wamentan akan menjadi blueprint berharga bagi BGN dalam membangun rantai pasok makanan bergizi secara mandiri.

Ujian Pembuktian

Menghadapi segudang masalah di BGN—mulai dari kesiapan dapur umum di desa terpencil hingga standarisasi kalori anak sekolah—memang bakal menguras energi.

Namun, dengan bekal portofolio prestasi di Kementan, rekam jejak yang bersih, serta dukungan politik dan sosial yang kuat, Mas Dar punya modal komplet untuk memenangi pertempuran ini.

Kini, publik tinggal menunggu pembuktian nyata di lapangan. Tantangan terbesar Mas Dar adalah meramu seluruh modal sosial dan prestasi masa lalunya itu menjadi eksekusi konkret: memastikan sepiring makanan bergizi benar-benar sampai ke tangan anak-anak Indonesia dengan selamat, tepat waktu, dan tepat sasaran.