JAKARTA, Ketikan.com — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menegaskan bahwa politik dan demokrasi harus berpijak pada suara serta kepentingan masyarakat.
Hal itu disampaikan Ibas dalam Sarasehan 25 Tahun Partai Demokrat yang digelar di DPP Partai Demokrat, Selasa (1/9/2026).
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, dan pakar untuk membahas berbagai persoalan bangsa.
Ibas menilai parlemen memiliki tanggung jawab untuk lebih banyak mendengar aspirasi masyarakat. Menurutnya, berbagai persoalan bangsa tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang.
“Biasanya kami di parlemen itu diharapkan oleh publik untuk lebih banyak mendengar. Karena kalau politisi banyak bicara, katanya omon-omon,” ujar Ibas, dikutip dari Antara, Kamis (3/9/2026).
Ia menegaskan, demokrasi tidak boleh berjalan secara terpusat. Partisipasi masyarakat harus menjadi bagian penting dalam proses politik dan pengambilan kebijakan.
“Saya tidak ingin parlemen berdemokrasi secara terpimpin. Kita juga ingin participating voice itu datangnya dari bawah, supaya hasil yang kita harapkan ini sesuai dengan perasaan, kehendak, dan keperluan masyarakat,” tegasnya.
Ibas mengatakan kursi parlemen merupakan bentuk representasi suara rakyat yang harus digunakan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa.
“Representasi politik itu juga diwakili dari suara masyarakat yang dikonversi menjadi kursi. Baru kita berbicara tentang bagaimana kita menjalankan bangsa ini menuju arah yang kita cita-citakan,” ujarnya.
Menurut Ibas, gagasan dan pemikiran kritis juga dapat tumbuh dari dialog sederhana di tengah masyarakat.
“Pikiran-pikiran kritis itu datang dari ruang-ruang kecil, karena semua selesai dalam ruang kecil, bukan di ruang-ruang besar ataupun kita berpidato di panggung,” katanya.
