SUMENEP, Ketikan.com — Anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak menuai keluhan dari pelaku usaha unggas.
Peternak ayam petelur asal Sumenep, Madura, Moh. Faiq, menilai pemerintah belum berhasil menjaga stabilitas harga telur yang kini diperdagangkan jauh di bawah harga acuan.
Menurutnya, harga telur di tingkat peternak kini hanya Rp21.800 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah yang mencapai Rp26.500 per kilogram.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi peternak. Harga di lapangan hanya sekitar Rp21.800 per kilogram saat dijual ke tengkulak, padahal harga acuan pemerintah berada di angka Rp26.500,” ujarnya, Sabtu (20/6).
Faiq menilai berbagai upaya pemerintah, termasuk melalui surat edaran, belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga telur di tingkat peternak.
“Sudah ada surat edaran, tetapi faktanya harga telur tetap tidak mengalami kenaikan. Yang dibutuhkan peternak bukan sekadar aturan tertulis, melainkan langkah konkret di lapangan,” katanya.
Ia berharap pemerintah lebih aktif melakukan intervensi pasar, mulai dari pengendalian distribusi, pengawasan rantai perdagangan, hingga penyerapan hasil produksi saat harga anjlok.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman (Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
Menurutnya, negara tidak boleh membiarkan peternak berjuang sendiri menghadapi gejolak pasar.
“Negara harus hadir, bukan hanya melalui kebijakan di atas kertas. Perlu ada langkah nyata untuk mengendalikan dan mengontrol pasar agar peternak tidak terus merugi,” tegasnya.
Selain harga telur yang merosot, peternak juga menghadapi kenaikan harga pakan pabrikan yang berdampak langsung terhadap biaya produksi.
“Peternak sedang terjepit. Di satu sisi harga pakan naik, sementara harga telur turun. Situasi ini membuat banyak peternak bertahan dalam kondisi yang sangat berat,” ungkap alumni Universitas Annuqayah tersebut.
Mantan aktivis PMII itu juga menilai Kementerian Pertanian (Kementan) belum mampu memberikan solusi bagi peternak.
“Menteri Amran barangkali tidak mengetahui kondisi di lapangan, ia hanya pintar menulis di atas selembar kertas setelah tersebar, ia tinggalkan tanpa ada gerakan berkelanjutan,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta kinerja Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dievaluasi.
“Dia dalam hal ini gagal total, perlu di evaluasi, sebab di tangan dirinya negara kalah pada pasar dalam menentukan harga pangan,” pungkasnya.
