PAMEKASAN, Ketikan.com – Angka stunting di Kabupaten Pamekasan meningkat dalam tiga tahun terakhir, dari 1.039 balita pada 2024 menjadi 1.493 balita hingga Juli 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pamekasan, jumlah balita stunting pada 2025 tercatat sebanyak 1.083 anak, sebelum kembali meningkat pada tahun berikutnya.
Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Syaifudin melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Achmad Syamlan mengatakan, data Agustus hingga September 2026 masih dalam proses entri ke aplikasi Sigizikesga.
“Per bulan Juli sebanyak jumlahnya 1.493,” kata Syamlan.
Dari data tersebut, Puskesmas Sopaah mencatat jumlah balita stunting tertinggi dengan 188 anak, disusul Puskesmas Panaguan sebanyak 163 anak dan Puskesmas Pakong 158 anak.
Selanjutnya, Puskesmas Larangan mencatat 100 balita stunting, sedangkan Puskesmas Pademawu sebanyak 88 anak.
Syamlan menyebut pola asuh menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan pada kasus stunting, terutama terkait pemberian ASI eksklusif dan kecukupan makanan pendamping ASI (MPASI).
“Terbanyak akibat pola asuh. Balita tidak ASI eksklusif dan pemberian MPASI yang tidak cukup,” ujarnya.
Untuk menekan angka stunting, Dinas Kesehatan Pamekasan mengoptimalkan kegiatan posyandu, konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA), serta kelas ibu hamil dan kelas ibu balita.
Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pemberian ASI eksklusif, menyusui, dan pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Sementara itu, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi balita dengan gizi kurang dan ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) disebut masih berjalan tanpa kendala.
“Kami terus berkomitmen menekan angka stunting di Pamekasan,” kata Syamlan.
